Gusti Allah kuwi Pangènku, aku ora kekurangan apa-apa.
Aku diengon ing pangonan kang akèh suketé seger.
Aku digiring menyang papan kang banyuné anteng.
Aku diparingi kekuwatan anyar,
lan dituntun menyang dalan sing bener.
Lakuku senajan ngambah dalan sing peteng dhedhet,
aku ora wedi bebaya, margi Paduka celak kawula;
Gada lan Teken ingkang Paduka asta, menika njagi kawula.
Paduka nata pasegahan kanggé kawula,
wonten ing ngajenging para mengsah kawula.
Paduka ngurmati kawula srana netepaken mawi lisah ing sirah kawula;
tuwung kawula Paduka isi ngantos mencep-mencep.
Kasaénan lan sih Paduka tansah badhé ngiring lampah kawula salami kawula gesang, lan kawula badhé manggèn ing Pedaleman Paduka, selami-laminipun. Amin.
140810
Sabtu, 14 Agustus 2010
Senin, 09 Agustus 2010
Family Time

Its really good to know we still got this thing
When we get together its so much fun
Everyone's happy no ones gotta run
its Family Time
now the world gets busy but its not hard to see
Family means the most to me
I'm so happy we found this time
we can all share whats on our minds
now we get together that's how we get along
now we get to work to sing a peace song
Everyone can see we all are family
let the world know the real proof of YOUR love
Thanks LORD for what YOU've done for me...
090810
I Loph U too
When you smile I'll smile along
When you cry my comfort comes
When you walk I'll be beside you
Holding your hands
When the sun come out we play
I'll never be far away
When you tell me that you love me
This is what I'm gonna say
I love you too
From the first time that I saw you
I knew that it was true
There 'll be a lifelong time to spend
Around the corner around the bends
Up the hills and through the valleys
No matter how things change
This one thing will remain
I'll sing it again and again
I love you too
Like the fish loves the sea
Like the honey and the bee
Like a bird loves to fly
Way up in the sky
When you tell me that you love me
I'm gonna say...I love you too...
My Unconditional Love......
My Beloved Wife..
090810
room
Kamis, 05 Agustus 2010
Rastafari Bukan Sebuah AGAMA
Rastafari bukanlah sebuah agama/formal religion, tapi Rastafari merupakan “movement” atau bisa juga disebut sbg “way of life”.
Meskipun mempunyai Tuhan yg disebut Jah, Rastafari tdk memiliki sebuah kitab suci spt Al-Quran dlm agama Islam, Injil dlm agama Kristen atau Tanakh dlm agama Yahudi.
Ajaran-ajaran pergerakan Rastafari sendiri banyak mengambil dr agama Yahudi dan Nasrani.
Beberapa ayat dari Injil dan Tanakh menjadi landasan penting bagi pergerakan ini. Revelation: 5, Revalation 22:7, Psalm 87:4-6; yg menjadi pijakan bagi Marcus Garvey untuk melakukan Nubuat dan kemudian memunculkan sosok Haile Selassie I sbg reinkarnasi Tuhan.
Genesis 1:11, Genesis 1:29, Genesis 3:18, Proverbs 15:17, Psalms 104:14, Revelation 22:2 adalah ayat-ayat yg digunakan para rastafarian untuk melegitimasi penggunaan Marijuana sbg bagian dr proses meditasi. “When you smoke the herb, it reveals you to yourself” – Bob Marley.
Kalaupun ada buku-buku (kitab) yg dianggap sbg landasan dasar atau pegangan dr gerakan Rastafari, spt: The Holy Piby, King James Bible, The Promised Key, dan Kebra Negast; menurut hemat saya tdk bisa disebut sbg Kitab Suci ‘murni’ dr gerakan Rastafari – sebuah firman yg lahir dari Tuhannya sejak pengkultusan Haile Selassie I sbg The messianic figure.
Buku-buku (kitab) yg saya sebutkan diatas, kecuali King James Bible, banyak bersumber dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama yg berhubungan dgn kitab suci umat Yahudi, yg dsebut Tanakh (Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Psalm, Proverbs) sedang Perjanjian Baru berhubungan dgn kitab suci umat Nasrani (Injil: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes)
The Promised Key dan The Holy Piby mungkin bisa digambarkan spt Bukunya David Ricardo “On the Principles of Political Economy and Taxation” pada paham kapitalis atau buku “The Communist Manifesto” pada paham komunis oleh Karl Marx. Sebuah kitab: landasan dasar, pegangan; tapi bukanlah Kitab Suci.
Buku (kitab) Kebra Negast berisi tentang sejarah kekaisaran Abyssinia (Ethiopia), pertemuan Raja Solomon dan Ratu Sheba, serta Menelik I. Sedang The Promise Key berisi doktrin tentang Haile Selassie I sbg Jah, Lord of Lords; Jesus is a black man; black supremacy; repatriation to the Ethiopian Zion; dan fight against babylon. Tak jauh berbeda dengan apa yang tertulis dalam buku (kitab) The Holy Piby.
Meskipun mempunyai Tuhan yg disebut Jah, Rastafari tdk memiliki sebuah kitab suci spt Al-Quran dlm agama Islam, Injil dlm agama Kristen atau Tanakh dlm agama Yahudi.
Ajaran-ajaran pergerakan Rastafari sendiri banyak mengambil dr agama Yahudi dan Nasrani.
Beberapa ayat dari Injil dan Tanakh menjadi landasan penting bagi pergerakan ini. Revelation: 5, Revalation 22:7, Psalm 87:4-6; yg menjadi pijakan bagi Marcus Garvey untuk melakukan Nubuat dan kemudian memunculkan sosok Haile Selassie I sbg reinkarnasi Tuhan.
Genesis 1:11, Genesis 1:29, Genesis 3:18, Proverbs 15:17, Psalms 104:14, Revelation 22:2 adalah ayat-ayat yg digunakan para rastafarian untuk melegitimasi penggunaan Marijuana sbg bagian dr proses meditasi. “When you smoke the herb, it reveals you to yourself” – Bob Marley.
Kalaupun ada buku-buku (kitab) yg dianggap sbg landasan dasar atau pegangan dr gerakan Rastafari, spt: The Holy Piby, King James Bible, The Promised Key, dan Kebra Negast; menurut hemat saya tdk bisa disebut sbg Kitab Suci ‘murni’ dr gerakan Rastafari – sebuah firman yg lahir dari Tuhannya sejak pengkultusan Haile Selassie I sbg The messianic figure.
Buku-buku (kitab) yg saya sebutkan diatas, kecuali King James Bible, banyak bersumber dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama yg berhubungan dgn kitab suci umat Yahudi, yg dsebut Tanakh (Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Psalm, Proverbs) sedang Perjanjian Baru berhubungan dgn kitab suci umat Nasrani (Injil: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes)
The Promised Key dan The Holy Piby mungkin bisa digambarkan spt Bukunya David Ricardo “On the Principles of Political Economy and Taxation” pada paham kapitalis atau buku “The Communist Manifesto” pada paham komunis oleh Karl Marx. Sebuah kitab: landasan dasar, pegangan; tapi bukanlah Kitab Suci.
Buku (kitab) Kebra Negast berisi tentang sejarah kekaisaran Abyssinia (Ethiopia), pertemuan Raja Solomon dan Ratu Sheba, serta Menelik I. Sedang The Promise Key berisi doktrin tentang Haile Selassie I sbg Jah, Lord of Lords; Jesus is a black man; black supremacy; repatriation to the Ethiopian Zion; dan fight against babylon. Tak jauh berbeda dengan apa yang tertulis dalam buku (kitab) The Holy Piby.
Karakteristik Pernikahan yang Sehat
Seperti apakah pernikahan yang sehat itu? Berikut ini adalah beberapa penguraian ciri-ciri pernikahan yang sehat:
1. Di dalam pernikahan yang sehat, ada kemampuan untuk menyelesaikan pertengkaran.
Meskipun kita bertengkar dan bahkan bertengkar hebat, pernikahan yang sehat bisa menyelesaikan masalah. Berbeda dengan pernikahan yang tidak sehat, tatkala bertengkar susah untuk berdamai kembali. Kalaupun berdamai, kecenderungannya adalah mendiamkan masalah dan bukan menyelesaikannya. Jadi, pernikahan yang sehat ditandai dengan kemampuan untuk menyelesaikan konflik.
2. Di dalam pernikahan yang sehat, kita tetap saling menerima.
Di dalam pernikahan yang sehat juga ada kekecewaan, kemarahan, kesedihan, dan kekesalan, namun itu tidak berlangsung lama. Dalam pernikahan kami, adakalanya kami bertengkar dan tidak ingin berbicara, namun itu hanya bertahan sejenak - setengah atau satu jam. Biasanya, tak sampai satu jam kami sudah ingin berbicara kembali karena kami merasa kesepian dan tidak nyaman berdiam-diaman. Sebetulnya perasaan kesepian ini telah saya rasakan cukup lama, namun tidak pernah saya ungkapkan. Suatu hari saya memberanikan diri dan mengakuinya kepada isteri dengan berkata, "Saya merasa kesepian ketika tidak berbicara denganmu." Rupanya kata-kata yang sangat berat untuk saya ungkapkan itu menyentuhnya dan ia pun menjawab, "Saya tidak tahu kamu merasa seperti itu." Setelah itu, kami berdamai dan saling menerima kembali. Dalam pernikahan yang sehat, meskipun kita marah, sedih dan kecewa, kita akan tetap memiliki kerinduan untuk bersatu kembali. Apa pun perbuatannya yang tidak kita sukai, kita akan tetap tergugah untuk menerimanya kembali dan tidak ada keinginan untuk mencampakkan atau meninggalkannya.
3. Di dalam pernikahan yang sehat, terkadang memang tidak ada perasaan apa-apa.
Maksudnya, kondisi pernikahan tidak selalu mesra dan tidak selalu penuh kasih. Kendati demikian, di dalam pernikahan yang sehat, selalu ada perasaan sayang terhadap pasangan kita - bahwa ia berharga dan kita tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya. Kita berdoa meminta Tuhan melindunginya, menjauhkannya dari segala mara bahaya. Kita tidak ingin kehilangan pasangan kita, sebab kita menyayanginya.
4. Di dalam pernikahan yang sehat, kita menghormati pandangan pasangan kita.
Memang kita tidak selalu seia sekata dengan pasangan kita, namun dalam pernikahan yang sehat, ada lebih banyak titik temu dibanding konflik. Meski berbeda pandangan, kita tidak melecehkannya; kita tetap menghormatinya. Kita menyadari bahwa ia berbeda dengan kita, namun perbedaaan tidak berarti bahwa kita lebih tinggi atau lebih baik daripadanya. Atas dasar saling menghormati inilah akhirnya kita sanggup menyelesaikan perbedaan yang ada. Hasilnya, kita lebih banyak menemukan titik temu pada waktu mengambil keputusan.
5. Di dalam pernikahan yang sehat, kita sebagai orangtua bisa mendamaikan perselisihan anak-anak kita.
Orangtua yang tidak bisa mendamaikan pertengkaran anak dan malah justru menambah kacau relasi anak-anak, hal itu menandakan bahwa pernikahannya tidak stabil. Anak-anak rindu melihat orangtuanya mesra, harmonis, dan saling menyayangi. Orangtua yang mengasihi pasangannya akan dihormati anak-anaknya; sebaliknya, orangtua yang tidak mengasihi pasangannya akan kehilangan respek dari anak-anaknya. Mungkin di depan kita, anak-anak tidak berkata apa-apa ketika melihat kita garang terhadap pasangan kita, tetapi ia tidak akan lagi menaruh hormat pada kita. Jadi, salah satu ciri pernikahan yang sehat adalah anak-anak menghormati orangtuanya karena melihat orangtua memperlakukan pasangannya dengan baik. Oleh karena rasa hormat inilah, anak-anak lebih mudah taat kepada orangtua. Relasi orangtua yang sehat memberi wadah bertumbuhnya relasi anak-anak yang sehat pula.
6. Dalam pernikahan yang sehat, kita mau memaafkan pasangan.
Kemarahan kita mungkin bertahan selama satu jam atau bahkan mungkin sampai dua hari. Namun, setelah merenung dan mengintrospeksi diri, kita bersedia dan dapat memaafkan pasangan. Pernikahan yang tidak sehat ditandai dengan ungkapan seperti, "Saya tidak akan memaafkanmu!" Sebaliknya, di dalam pernikahan yang sehat, kasih akan mengalahkan kemarahan dan akhirnya membuahkan pengampunan.
7. Di dalam pernikahan yang sehat, ada persekutuan dengan Tuhan.
Memang kita tidak selalu bisa bersekutu bersama di dalam Tuhan pada waktu kita sedang berselisih paham. Adakalanya kita memerlukan waktu untuk menyendiri. Namun, dalam pernikahan yang sehat, frekuensi persekutuan dengan Tuhan jauh lebih sering dilakukan daripada tidak. Kita dapat membicarakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan mendoakan anak-anak serta kebutuhan lainnya. Ini adalah salah satu bentuk persekutuan di dalam Tuhan.
Pasti kita berharap keluarga kita mempunyai ciri-ciri seperti di atas, akan tetapi dalam kenyataannya, pernikahan tidak selalu sesehat yang kita idamkan. Sungguhpun demikian, kita harus selalu berjuang mewujudkan impian itu.
from jawaban.com
1. Di dalam pernikahan yang sehat, ada kemampuan untuk menyelesaikan pertengkaran.
Meskipun kita bertengkar dan bahkan bertengkar hebat, pernikahan yang sehat bisa menyelesaikan masalah. Berbeda dengan pernikahan yang tidak sehat, tatkala bertengkar susah untuk berdamai kembali. Kalaupun berdamai, kecenderungannya adalah mendiamkan masalah dan bukan menyelesaikannya. Jadi, pernikahan yang sehat ditandai dengan kemampuan untuk menyelesaikan konflik.
2. Di dalam pernikahan yang sehat, kita tetap saling menerima.
Di dalam pernikahan yang sehat juga ada kekecewaan, kemarahan, kesedihan, dan kekesalan, namun itu tidak berlangsung lama. Dalam pernikahan kami, adakalanya kami bertengkar dan tidak ingin berbicara, namun itu hanya bertahan sejenak - setengah atau satu jam. Biasanya, tak sampai satu jam kami sudah ingin berbicara kembali karena kami merasa kesepian dan tidak nyaman berdiam-diaman. Sebetulnya perasaan kesepian ini telah saya rasakan cukup lama, namun tidak pernah saya ungkapkan. Suatu hari saya memberanikan diri dan mengakuinya kepada isteri dengan berkata, "Saya merasa kesepian ketika tidak berbicara denganmu." Rupanya kata-kata yang sangat berat untuk saya ungkapkan itu menyentuhnya dan ia pun menjawab, "Saya tidak tahu kamu merasa seperti itu." Setelah itu, kami berdamai dan saling menerima kembali. Dalam pernikahan yang sehat, meskipun kita marah, sedih dan kecewa, kita akan tetap memiliki kerinduan untuk bersatu kembali. Apa pun perbuatannya yang tidak kita sukai, kita akan tetap tergugah untuk menerimanya kembali dan tidak ada keinginan untuk mencampakkan atau meninggalkannya.
3. Di dalam pernikahan yang sehat, terkadang memang tidak ada perasaan apa-apa.
Maksudnya, kondisi pernikahan tidak selalu mesra dan tidak selalu penuh kasih. Kendati demikian, di dalam pernikahan yang sehat, selalu ada perasaan sayang terhadap pasangan kita - bahwa ia berharga dan kita tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya. Kita berdoa meminta Tuhan melindunginya, menjauhkannya dari segala mara bahaya. Kita tidak ingin kehilangan pasangan kita, sebab kita menyayanginya.
4. Di dalam pernikahan yang sehat, kita menghormati pandangan pasangan kita.
Memang kita tidak selalu seia sekata dengan pasangan kita, namun dalam pernikahan yang sehat, ada lebih banyak titik temu dibanding konflik. Meski berbeda pandangan, kita tidak melecehkannya; kita tetap menghormatinya. Kita menyadari bahwa ia berbeda dengan kita, namun perbedaaan tidak berarti bahwa kita lebih tinggi atau lebih baik daripadanya. Atas dasar saling menghormati inilah akhirnya kita sanggup menyelesaikan perbedaan yang ada. Hasilnya, kita lebih banyak menemukan titik temu pada waktu mengambil keputusan.
5. Di dalam pernikahan yang sehat, kita sebagai orangtua bisa mendamaikan perselisihan anak-anak kita.
Orangtua yang tidak bisa mendamaikan pertengkaran anak dan malah justru menambah kacau relasi anak-anak, hal itu menandakan bahwa pernikahannya tidak stabil. Anak-anak rindu melihat orangtuanya mesra, harmonis, dan saling menyayangi. Orangtua yang mengasihi pasangannya akan dihormati anak-anaknya; sebaliknya, orangtua yang tidak mengasihi pasangannya akan kehilangan respek dari anak-anaknya. Mungkin di depan kita, anak-anak tidak berkata apa-apa ketika melihat kita garang terhadap pasangan kita, tetapi ia tidak akan lagi menaruh hormat pada kita. Jadi, salah satu ciri pernikahan yang sehat adalah anak-anak menghormati orangtuanya karena melihat orangtua memperlakukan pasangannya dengan baik. Oleh karena rasa hormat inilah, anak-anak lebih mudah taat kepada orangtua. Relasi orangtua yang sehat memberi wadah bertumbuhnya relasi anak-anak yang sehat pula.
6. Dalam pernikahan yang sehat, kita mau memaafkan pasangan.
Kemarahan kita mungkin bertahan selama satu jam atau bahkan mungkin sampai dua hari. Namun, setelah merenung dan mengintrospeksi diri, kita bersedia dan dapat memaafkan pasangan. Pernikahan yang tidak sehat ditandai dengan ungkapan seperti, "Saya tidak akan memaafkanmu!" Sebaliknya, di dalam pernikahan yang sehat, kasih akan mengalahkan kemarahan dan akhirnya membuahkan pengampunan.
7. Di dalam pernikahan yang sehat, ada persekutuan dengan Tuhan.
Memang kita tidak selalu bisa bersekutu bersama di dalam Tuhan pada waktu kita sedang berselisih paham. Adakalanya kita memerlukan waktu untuk menyendiri. Namun, dalam pernikahan yang sehat, frekuensi persekutuan dengan Tuhan jauh lebih sering dilakukan daripada tidak. Kita dapat membicarakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan mendoakan anak-anak serta kebutuhan lainnya. Ini adalah salah satu bentuk persekutuan di dalam Tuhan.
Pasti kita berharap keluarga kita mempunyai ciri-ciri seperti di atas, akan tetapi dalam kenyataannya, pernikahan tidak selalu sesehat yang kita idamkan. Sungguhpun demikian, kita harus selalu berjuang mewujudkan impian itu.
from jawaban.com
Langganan:
Postingan (Atom)
